Click Here For Free Blog Templates!!!
Blogaholic Designs

Pages

Jumat, 26 Februari 2016

Fardhu Ma'i, Jangan Dikuasai Sendiri...



Allah SWT memberikan anugrah kepada kita berupa mata air kehidupan. Air merupakan salah satu sumber kehidupan bagi makhluk hidup. Bayangkan saja jika dunia ini tanpa air, tentu makhluk hidup kesulitan untuk bertahan hidup. Maka dari itu, syukurilah apa yang telah Allah SWT limpahkan kepada kita, khususnya bagi kita seorang fardhu ma'i. 

Siapakah fardhu ma'i itu? Fardhu Ma'i adalah orang muslim yang mempunyai sumur atau air sungai yang melebihi kebutuhan minumnya, dan pengairan untuk tanaman dan pohonnya. 

Hukum fardhu ma'i (kelebihan air dari kebutuhan) ialah diberikan kepada kaum muslimin yang membutuhkannya secara gratis. Sebab Rasulullah SAW bersabda, "Kelebihan air tidak boleh dijual." (Diriwayatkan Muslim).

Adapun syarat Fardhu Ma'i adalah :
1. Memberikan kelebihan air itu tidak merupakan fardhu 'ain kecuali setelah seseorang melebihi kelebihan.
2. Orang yang diberi kelebihan air ialah orang yang membutuhkannya.
3. Pemberian kelebihan air tidak menimbulkan sedikit pun madzarat pada pemberinya.

Jadi, wujud kita bersyukur atas nikmat yang Allah SWT berikan itu ialah dengan memberikan air yang kita miliki secara berlebih kepada orang lain yang membutuhkannya. Jangan malah kita kuasai seorang diri. Apalagi hingga kita jadikan itu sebagai alat pemenuh ekonomi atau penambah penghasilan. Sebab air itu adalah karena rahmad Allah SWT untuk kebaikan bersama.

Sumber : www.islampos.com

Kamis, 25 Februari 2016

Jangan Bersedih Karena Musibah...


Jangan Menghitung Nikmat Allah SWT...


Mari Membaca, Mempelajari dan Mengamalkan Al Quran...


Semoga anak-anakku menjadi pribadi yang selalu mencintai membaca Al Quran dan memahami dan mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya...

Dan menjadikan Al Quran dan Hadits Rasulullah SAW sebagai pedoman kehidupan...

Aamiin Yaa Rabbal 'Aalamiin...

Pahala Sempurna...


Duduk Bersandar Yang Dimurkai Allah...


Masya Allah dan Subhanallah...


Manfaatkan Waktu...


Biasakan Diri Mengucap INSYA ALLAH...


Makna kata "INSYA ALLAH" adalah Jika Allah Menghendaki... 

Kalimat ini hakikatnya bahwa kita bergantung kepada Allah SWT akan segala hal yang akan terjadi di waktu selanjutnya... 

Karena bisa jadi kita sudah berniat akan sesuatu ternyata Allah SWT tidak meridhoi itu terlaksana...

Manusia hanya bisa berencana tapi Allah SWT lah semata yang Maha Menentukan...

Marilah kita biasakan mengucap INSYA ALLAH...
Rabu, 24 Februari 2016

Kisah Langkah Bilal Bin Rabah Yang Terdengar Di Surga...


Nama Bilal kerap dikaitkan dengan azan. Sebab dia adalah orang pertama yang menjadi muadzin pada zaman Rasulullah SAW. (ada dicerita sebelumnya). Namun, kemuliaan Bilal tak hanya karena azannya, jejak langkah Bilal pernah didengar Rasulullah SAW di dalam surga saat Isra Mi'raj.

Suatu hari, pada waktu subuh, Rasulullah SAW berbincang2 dengan Bilal bin Rabah. Rasulullah SAW berkata, "Wahai Bilal, ceritakanlah kepadaku mengenai amalan yang menurutmu paling besar pahalanya, yang pernah kamu kerjakan dalam Islam. Sesungguhnya, aku pernah mendengar suara telapak kakimu di surga."

Bilal menjawab, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tidak pernah mengerjakan amalan yang menurutku besar pahalanya, tapi aku tidak wudhu pada waktu malam dan siang melainkan aku akan menunaikan shalat yang diwajibkan bagiku untuk mengerjakannya."

Setiap selesai melaksanakan wudhu, Bilal senantiasa melakukan shalat dua rakaat yaitu shalat sunat wudhu. Perbuatan itu senantiasa dilakukannya dalam setiap kesempatan. Selain itu, ia juga termasuk orang yang senantiasa memelihara wudhunya, yakni setiap batal ia akan langsung berwudhu. 

Ternyata hal itu yang membuat Bilal menjadi istimewa. Berarti Allah SWT meridhai apa yang dilakukan oleh Bilal. Semoga kita bisa senantiasa menjaga wudhu kita selain diwaktu shalat. Aamiin...

Sumber : www.khazanah.republika.co.id

Kisah Bilal bin Rabah, Sang Muadzin Rasulullah SAW...


Nama lengkapnya Bilal bin Rabah Al-Habasyi. Ia berasal dari negeri Habasyah, sekarang Ethiopia. Ia biasa dipanggil Abu Abdillah dan digelari Muadzdzin Ar-Rasul. Bilal lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ia berpostur tinggi, kurus, warna kulitnya cokelat, pelipisnya tipis dan rambutnya lebat. 

Ibunya adalah budak milik Umayyah bin Khalaf dari Bani Jumuh. Bilal menjadi budak mrk hingga akhirnya ia mendengar ttg Islam. Lalu ia menemui Rasulullah SAW dan mengikrarkan diri masuk islam. Ia merupakan kalangan sahabat Rasulullah yang berasal dari non-Arab.

Dalam sejarah, dipaparkan bahwa Umayyah bin Khalaf pernah menyiksa dan membiarkannya dijemur di tengah gurun pasir bbrp hari. Diperutnya, diikat sebuah batu besar dan lehernya diikat dengan tali. Lalu, orang-orang kafir menyuruh anak2 mrk untuk menyeretnya di antara perbukitan Makkah. 

Saat berada dalam siksaan itu, tiada yang diminta Bilal kpd penyiksanya kecuali hanya memohon kepada Allah. Berkali2 Umayyah bin Khalaf menyiksa dan memintanya agar meninggalkan Islam namun Bilal tetap teguh pendirian.

Ia selalu mengucap "Ahad-Ahad". Ia menolak mengucap kata kufur (mengingkari Allah). Abu Bakar as Shiddiq lalu memerdekakannya. Setelah merdeka, Bilal mengabdikan diri untuk Allah dan Rasul-Nya. Kemanapun Rasulullah SAW pergi, Bilal senantiasa berada di sampingnya. Karena itu pula para sahabat Nabi sangat menghormati dan memuliakan Bilal.

Azan Pertama
Saat Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah, Bilal pun turut serta bersama kaum muslim lainnya. Ketika Masjid Nabawi selesai dibangun, Rasulullah SAW mensyariatkan azan, lalu Beliau menunjuk Bilal untuk mengumandangkan azan krn ia memiliki suara yang merdu. Lalu Bilal mengumandangkan azan sebagai pertanda dilaksanakannya shalat lima waktu. Sejak saat itu, Bilal mendapat julukan Muadzdzin Ar-Rasul dan ia menjadi muazin pertama dalam sejarah Islam. 

Setelah sekian lama tinggal di Madinah, Bilal senantiasa menjadi pengumandang azan. Biasanya setelah azan, Bilal berdiri di depan pintu rumah Rasulullah SAW seraya berseru. "Hayya 'alashshalaati hayya 'alashsalaati (Mari melaksanakan shalat, mari meraih keuntungan)." Lalu Rasulullah SAW keluar dari rumah dan Bilal melihatnya, ia segera melantunkan iqamat sebagai tanda shalat berjamaah akan segera mulai. 

Ketika menaklukkan Kota Mekkah, Rasulullah SAW berjalan di depan pasukan Muslim bersama Bilal. Saat masuk Ka'bah, beliau hanya ditemani oleh tiga orang sahabat, yaitu Utsman bin Thalhah, Usamah bin Zaid, dan Bilal bin Rabah. 

Tak lama kemudian, waktu shalat Zuhur pun tiba. Ribuan orang berkumpul di sekitar Rasulullah SAW, termasuk orang2 kafir Quraisy yang baru masuk Islam saat itu. Pada saat2 yang sangat bersejarah itu, Rasulullah SAW memanggil Bilal agar naik ke atap Ka'bah dan mengumandangkan azan. 

Tanpa menunggu perintah kedua, Bilal segera beranjak dan melaksanakan perintah tersebut dengan senang hati. Ia pun mengumandangkan azan dengan suaranya yang bersih dan jelas. Orang-orang semakin banyak berkumpul. Azan yang dikumandangkan Bilal itu mrp azan pertama di Mekkah. 

Ribuan pasang mata memandang Bilal dan ribuan lidah mengikuti kalimat azan itu. Sejak saat itu Bilal pun terkenal sebagai muadzin Rasul. Tidak ada orang lain yang menggantikan Bilal dan yang lainpun tidak keberatan Bilal melakukannya. 

Namun, saat Rasulullah SAW wafat dan ketika shalat akan dikerjakan. Bilalu pun segera berdiri melaksanakan kewajibannya. Saat itu jasad Rasulullah SAW masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan. Maka ketika Bilal sampai pada kalimat "Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)", tiba2 suaranya terhenti. Bilal menangis. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Bilal merasakan sedih ditinggalkan manusia yang paling dicintainya. Seperti dikomando, tangisan Bilal pun diiringi oleh kaum muslim yang hadir. Mereka semua menangis ditinggal pergi Rasulullah SAW.

Dalam sejarah, disebutkan Bilal hanya sanggup mengumandangkan azan selama tiga hari sejak kepergian Rasulullah SAW. Kemudian Bilal mendatangi Abu Bakar As-Shiddiq yang menggantikan posisi Rasulullah SAW sebagai pemimpin umat Islam, agar ia diperkenankan tidak lagi mengumandangkan azan karena tidak sanggup melakukannya. Permohonan itu pun dikabulkan Abu Bakar. Sejak saat itu Bilal tidak lagi menjadi muazin. 

Kini, sang Muadzin Rasulullah SAW itu telah berpulang sejak 14 abad silam, tepatnya tahun ke-20 Hijriah. Namun namanya masih harum hingga kini. Bahkan disejumlah masjid di Indonesia, mungkin juga di negara lainnya, nama muadzin selalu ditulis "Bilal". Ini menunjukkan penghormatan kepada Sang Muadzin Rasulullah SAW, pengumandang azan pertama di duni. Semoga Allah SWT memberikan tempat yang mulia disisi-Nya...

Aamiin Yaa Rabbal 'Aalamiin...

Sumber : www.khazanah.republika.co.id