Click Here For Free Blog Templates!!!
Blogaholic Designs

Pages

Selasa, 13 September 2016

Kisah Si Tukang Batu...


Diriwayatkan pada saat itu Rasululullah SAW baru tiba dari Tabuk, peperangan dengan bangsa Romawi yang kerap menebar ancaman pada kaum muslimin. Banyak sahabat yang ikut beserta Nabi dalam peperangan ini. Tidak ada yang tertinggal kecuali orang-orang yang berhalangan dan ada pula yang uzur.

Saat mendekati kota Madinah, di salah satu sudut jalan, Rasulullah SAW berjumpa dengan seorang tukang batu. Ketika itu Rasulullah melihat tangan buruh tukang batu tersebut melepuh, kulitnya merah kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari.


Sang manusia Agung itupun bertanya, “Kenapa tanganmu kasar sekali?”
Si tukang batu menjawab, “Ya Rasulullah, pekerjaan saya ini membelah batu setiap hari dan belahan batu itu saya jual ke pasar, lalu hasilnya saya gunakan untuk memberi nafkah keluarga saya, karena itulah tangan saya kasar.”
Rasulullah adalah manusia paling mulia, tetapi orang yang paling mulia tersebut begitu melihat tangan si tukang batu yang kasar karena mencari nafkah yang halal, Rasul pun menggenggam tangan itu dan menciumnya seraya bersabda,
“Hadzihi yadun la tamatsaha narun abada”, ‘inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya’.
Rasulullah tidak pernah mencium tangan para Pemimpin Quraisy, tangan para Pemimpin Khabilah, Raja atau siapapun. Sejarah mencatat hanya putrinya Fatimah Az Zahra dan tukang batu itulah yang pernah dicium tangannya oleh Rasulullah. Padahal tangan tukang batu yang dicium oleh Rasulullah justru tangan yang telapaknya melepuh dan kasar, kapalan, karena membelah batu dan karena kerja keras.
Suatu ketika seorang laki-laki melintas di hadapan Rasulullah. Orang itu di kenal sebagai pekerja yang giat dan tangkas. Para sahabat kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, andai bekerja seperti dilakukan orang itu dapat digolongkan jihad di jalan Allah (Fi sabilillah), maka alangkah baiknya.” Mendengar itu Rasul pun menjawab, “Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, maka itu fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk menghidupi kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia, maka itu fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, maka itu fi sabilillah.” (HR Thabrani)
Orang-orang yang pasif dan malas bekerja, sesungguhnya tidak menyadari bahwa mereka telah kehilangan sebagian dari harga dirinya, yang lebih jauh mengakibatkan kehidupannya menjadi mundur. Rasulullah amat prihatin terhadap para pemalas.
”Siapa saja pada sore hari bersusah payah dalam bekerja, maka sore itu ia diampuni”. (HR. Thabrani dan lbnu Abbas)
”Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu, ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan shalat”. Maka para sahabat pun bertanya: “Apakah yang dapat menghapusnya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: ”Bersusah payah dalam mencari nafkah.” (HR. Bukhari)

Senin, 12 September 2016

Kalimat Sederhana Bermakna Luar Biasa...


Tulisan di atas adalah potongan kata pengantar KTTA (Karya Tulis Tugas Akhir) nya sulungku, si Ses Tasya. Iya, setelah berakhirnya semester 6 nya di PKN STAN, maka KTTA adalah salah satu tugas wajib yang harus mereka selesaikan sebelum yudisium dan wisuda.

Penggalan kalimat yang kugaris bawahi, kalimatnya sederhana tetapi maknanya dalem banget, bahkan tetap terselip doanya disitu...


Alhamdulillah...Terima kasih Ya Allah telah Engkau berikan padaku tiga penyejuk hati, semoga mereka bertiga selalu menjadi anak yang sholeh dan sholehah, yang selalu saling mencintai, selalu menghormati kami orangtuanya, dan kami orangtuanya pun smoga selalu mendoakan keberkahan selalu untuk hidup mereka, dan smoga mereka bertiga selalu menjadi pribadi yang selalu bersyukur atas segala rahmat dari-Mu...Aamiin Yaa Rabbal 'Aalamiin..


Saat kita orangtua masih hidup, anak-anak kita membutuhkan doa-doa terbaik kita sebagai orangtua untuk kebaikan dan keberkahan hidup mereka...tetapi...saat kita orang tua telah meninggalkan dunia ini, maka kitalah yang membutuhkan doa-doa sholeh sholehah dari anak2 kita sebagai amal jariah kita..


Maka berbaik doalah pada anak2 kita, jangan karena kita merasa punya doa pamungkas yang bisa membuat Allah SWT murka pada mereka sehingga kita menjadi semena-mena mengucap doa buruk, karena ingatlah Allah SWT maha mengetahui atas segala sesuatu. Mereka adalah penerus amal jariah kita saat usia kita terputus...


Semoga kita bisa menjadi orang tua yang slalu mendoakan kebaikan untuk anak-anak kita dan smoga kita menjadikan anak2 kita jalan kita menuju surga Allah SWT ...Aamiin..